New York – Terharu. Itulah gambaran perasaan warga Amerika Serikat saat menyaksikan tim kesayangannya lolos ke babak 16 besar. Kabar gembira itu terdengar gaungnya hingga ke sudut-sudut kota bahkan penghuni penjara.

‘Paman Sam’ memang bukan pertama kalinya lolos ke perdelapanfinal Piala Dunia. Prestasi terbaik ‘The Yanks’ adalah menjadi juara ketiga pada tahun 1930, lalu masuk ke babak 16 besar di rumah sendiri pada tahun 1994 dan perempatfinal 2002. Namun, ada yang berbeda dengan torehan prestasi AS tahun ini.

Sepakbola di negeri sejuta harapan tersebut kini telah sejajar dengan olahraga ‘lokal’ seperti basket, American Football, atau baseball. Tak heran, air mata pun bercucuran saat menyambut kemenangan atas Aljazair pada Rabu (22/6) malam.

“Saya hanya menangis tiga kali dalam hidup. Saat menikah, saat melihat anak saya lahir, dan hari ini,” kisah Carl Witkowski, seorang pelanggan bar di Milwaukee Bay usai menyaksikan pertandingan AS kontra Aljazair.

Cerita lain tersembul dari mantan pelatih gelandang AS Clint Dempsey saat SMA, Farshid Niroumand. Nun jauh di pelosok kota Texas, tepatnya 31.000 Km dari Dallas, Niroumand hanya ingin menonton pertandingan tim AS seorang diri.

“Saya tidak ingin semua orang melihat emosi saya saat berteriak, atau menggunakan bahasa yang tidak benar,” ucapnya.

Niroumand sempat frustrasi saat gol Dempsey dianulir wasit karena offside di babak pertama. Terlebih, saat insiden itu Dempsey terlihat sedikit berdarah di bagian bibir. Namun, kekecewaannya terbayar saat striker Landon Donovan berhasil mencetak gol di menit akhir pertandingan dan memastikan AS lolos.

Kisah berlanjut ke Iowa, negara bagian yang penduduknya dikenal tidak peduli dengan sepakbola. Berbeda dengan biasanya, bar dan restoran penuh saat menyaksikan laga final di Grup C tersebut.

“Saat mereka mencetak gol, saya pikir atap ruangan akan runtuh,” ujar manajer Royal Mile Bar, Joe White. “Semuanya menjadi gila,” imbuhnya.

Para mantan atlet pun tak ingin ketinggalan mengekspresikan rasa kagum. Mantan kapten Claudio Reyna bahkan menyebut tim yang diikutsertakan dalam Piala Dunia tahun ini luar biasa.

“Luar biasa, Anda bisa melihat efeknya bagi sepakbola. Setiap empat tahun mereka selalu mendapat tekanan untuk berbuat sesuatu, dan kini berhasil dibuktikan,” tegas Reyna yang kala itu sedang menggelar acara amal bersama bintang NBA Steve Nash.

Mantan pemain AS lainnya, Tab Ramos ikut menilai bahwa sepakbola telah terangkat popularitasnya di negeri Barack Obama. “Ini adalah Piala Dunia, dan pertandingan seperti ini membuat sepakbola di negara kita menjadi lebih besar,” bangganya.

Walter Bahr, pemain legenda AS yang pernah mencetak gol saat mengalahkan Inggris pada Piala Dunia tahun 1950 ikut menyaksikan Donovan dkk di rumahnya. Komentarnya pendek. “Luar biasa,” tukasnya.

AS akan kembali melakoni laga di babak 16 besar melawan Ghana. Mereka berhasil menjadi juara grup dan menghindari Jerman di saat yang sampa. Mampukah asa para penduduk AS ini tetap terjaga? (mad/a2s)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!