Jakarta – Jerman akhirnya menang. Kemenangan ini membawanya masuk babak 16 besar bersama Ghana. Australia mampu menekuk Serbia tapi kalah selisih gol. Ini seperti Hitler dibenci gara-gara membantai Yahudi, tetapi dia punya alasan kenapa genosida itu dilakukan.

Terus terang, Jerman resah. Itu saat Der Panzer dikalahkan Serbia. Kendati masih punya peluang lolos, namun kekalahan itu seperti membangkitkan bangkai. Serbia yang sudah kehilangan harapan kembali bangkit. Sayang, ketika lawan Australia kalah hingga harus tersingkir bersama yang mengalahkannya.

Kekalahan satu kosong atas Serbia kala itu memang menyakitkan. Terasa getir setelah digdaya membantai Australia. Di tengah keraguan membayangkan laga berikut, Jerman seperti berperang melawan diri sendiri. Berusaha melupakan kekalahan menyakitkan itu.

Dalam lintas waktu, Jerman juga pernah teronggok dalam situasi sama. Negeri ini ingin menghapus sejarah. Itu gara-gara Adolf Hitler. Penggagas Mein Kampf itu melakukan tindakan biadab, membantai bangsaYahudi. Ini realisasi sikapnya anti-Yahudi sebelum mendirikan partai buruh dan dipenjara akibat kudeta (1923).

Tercatat 6 juta warga Yahudi binasa. Mereka mati bergerbong-gerbong. Tubuh lemas dan lunglai menghadapi sakratul maut. Dan dikuburkan massal bak binatang. Ini aib negeri yang sempat pecah menjadi dua itu. Jerman dikecam dunia. Dia dituding melakukan genosida, membinasakan sebuah bangsa.

Namun Hitler punya alibi. Dia punya alasan membantai Yahudi. Katanya, “kalau saya mau saya bisa membunuh seluruh Yahudi di dunia. Tapi itu tidak saya lakukan agar ada yang tersisa, dan dunia tahu alasan saya membantai mereka.”

Aforisma Hitler itu memang tidak salah. Itu jika dikaitkan dengan nasib bangsa Palestina yang ditindas Israel sampai sekarang. Yahudi asal Yehuda putra keempat Yakub itu bukan mengambil hikmah dari masa lalu. Malah berguru kegetiran ditimpakan pada Palestina.

Bangsa yang terberai tatkala Titus Kaisar Romawi memburunya itu kini adigang adigung. Gagasan Zionisme untuk mendirikan Negara Israel di Perang Dunia pertama dilupakan. Dia merasa negerinya, dan tanah Palestina adalah milik moyangnya.

Melihat sejarah, Hitler memang benar. Laki-laki pemuja Nostradamus itu mengikuti jejak sang peramal. Dia membenci Yahudi karena tahu yang dikerjakan dulu dan di hari depan. Sayang, nasibnya tragis. Mati bunuh diri bersama Eva Braun sang pacar di persembunyian bawah tanah.

Dari sisi yang berbeda Der Panzer mengikuti Hitler. Dia tundukkan Ghana. Dan Inggris mungkin bakal jadi korban berikutnya. Sebab dia tahu tim besutan Fabio Capello itu terseok-seok. Tak kunjung padu hingga hari akhir. Akankah benar begitu?

Jerman telah melangkah jauh. Dia tak hendak mengubur harapan yang sudah terbentang di depan mata. Wein bitte nicht meine Brueder…..

==

*) Penulis adalah budayawan, tinggal di Surabaya. Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis, tidak mencerminkan sikap redaksi. (a2s/krs)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!