Kualifikasi Piala Dunia 2010 sudah usai pekan lalu. Ada dua cerita yang masih terus bergaung sampai sekarang: pertama, handsball Thierry Henry yang menyingkirkan Iralndia Utara, dan kedua, tak ada satupun negara Arab yang lolos ke Afrika Selatan dalam perhelatan sepakbola yang dianggap paling akbar tersebut.

Dalam beberapa kali Piala Dunia belakangan ini, negara-negara Arab biasanya “mengirimkan” perwakilannya. Misalnya saja Iran dan Arab Saudi. Bukan sekadar berpartisipasi, tapi para pemain bola asal negeri Arab ini memang kemudian dijadikan kebanggaan oleh negaranya, terlebih Saudi. Misalnya saja, setiap pemain yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan di putaran final Piala Dunia, bisa diganjar dengan bonus mewah yang wah.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, orang-orang Arab memang semakin menunjukkan minat yang gila-gilaan terhadap sepakbola. Kita tentu tahu bahwa klub Liga Inggris, Manchester City dan Portsmouth dimiliki dua orang Arab yang sangat kaya. Keduanya—terutama City—telah membelanjakan trilyunan dollar untuk membangun klub sepak bola yang kuat, yang jika dikonversikan, dana itu bisa dipakai untuk perjuangan dan pembangunan kembali Palestina yang sedang dijajah Israel.

Bukan hanya itu,klub-klub sepakbola Arab pun rajin mendatangkan pemain Eropa dan Latin yang top namun sudah udzur, alias habis masa kejayaannya di dalam sepakbola. Gabriel Batistuta, mantan pemain AS Roma dan Fiorentina asal Argentina, pernah bermain di Arab dengan bayaran sebulannya sama dengan gajinya di Eropa selama satu tahun! Ini sungguh keterlaluan, ya. Batistuta hanya satu. Masih banyak yang lainnya lagi.

Artinya, betapa orang-orang Arab pada praktiknya menganggap dewa bagi sepakbola dan para pemainnya. Pertandingan-pertandingan sepakbola di stadion selalu dipenuhi dengan penonton dan siaran langsung sepakbola di televisi pun mampu memarkir mereka di depan televisi dengan fanatisme yang berlebih—terutama sepakbola Brazil.

Tak ada negara Arab di Piala Dunia 2010, mungkin sebagai sebuah teguran. Bahwa hidup itu lebih dari sekadar sepakbola; ada sepeda motor, museum, keluarga, teman, masyarakat sosial, dan yang terpenting Islam itu sendiri. (sa/darlhyat/eramuslim)